TERLANJUR USANG

adminkpi

“Kreeekkk”
Aku perlahan mendorong sebuah pintu yang terasa sudah mulai berat karna karatnya itu. Di halaman luar, rumput-rumput terlihat jelas tumbuh tak terawat. Bisa dibayangkan bagaimana isi dalam rumah itu, hampir di setiap sudutnya melekat sarang laba-laba. Bahkan debu-debu hinggap disetiap perabotan yang ada. Aku ingat, dulu, disini aku biasa menghabiskan seharian suntuk tanpa menjumpai matahari sedikitpun. Aku bahkan ingat semua kenangan pahit disini.
Entahlah, ada sesuatu yang membuatku ingin sekali kembali kesini, tidak selamanya, mungkin sesaat. Hanya ingin mengambil kembali sesuatu yang tertinggal itu.
Di atas meja kamarku, beberapa foto berbaris rapi namun terlihat telah usang, debu hampir menutupi gambarnya, tapi masih bisa terlihat, sekalipun tak jelas. Foto-foto itu mengingatkanku tentang sesuatu. Dan, aku rindu,,,
***
Suasana kelas benar-benar bising.
Seperti biasa, jika kelas kosong tanpa dosen, maka akan ada beberapa kubu atau kelompok. Bukan! Ini bukan untuk membahas tugas, diskusi atau yang lainnya. Kubu wanita apalagi, tiada lain tiada bukan, isinya sudah pasti gosip. Inilah itulah, liuk lekuk hidup orang lain akan habis dikupas.
Benar-benar ribut. Sangat!!
Aku tidak pernah menyukai kelas ini, bahkan sekali pun sudah sekelas dengan mereka tiga tahun lamanya. Mereka membosankan. Tidak ada yang aku sukai dari sekian banyak teman kelasku. Tidak satupun.
Aku bangkit, aku rasa aku lebih baik ke perpustakaan dari pada harus menghabiskan waktuku di kelas ini. Iya, ini pelarian.
“Mara” panggil seseorang. Namanya Anggun. Aku hanya menengok
“Aku ikut” lanjutnya
“kemana?”
“kemana aja” dia nyengir. Tidak manis!
Dasar desisku dalam hati.
Aku hanya meneruskan langkahku dan dia hanya mengekori di belakang. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu detikpun terlewat tanpa mendengar ocehannya. Aku baru sadar, bahwa dia makhluk tercerewet sepanjang masa.

“Nggun!” bentakku sambil membalik badan.
“Tau nggak sih, tidak ada satu pun cerita kamu yang menarik. Semuanya, dari A sampai Z benar-benar ngebosenin. Ganggu tau nggak . Aku sampe bingung, selama ini, kok masih ada sih yang mau temenan sama kamu. Aku rasa, mereka bukan temenan sama kamu karna kamu asik, tapi ya karna duit kamu itu.” cetusku
Anggun diam sebelum kemudian…
“Maaf” . kemudian berlalu.
Itu bukan satu-satunya perbuatan kasarku. Aku seringkali berlaku sedemikian rupa pada yang lainnya. Aku rasa, semua teman-temanku membenciku karna itu.
***
Aku menangis sesenggukan melihat jasad ayahku terbujur kaku tertutup kain kafan. Kakiku sudah dari tadi melemas, aku bahkan rasanya sudah tidak kuat lagi berdiri.
Tuhan, sejauh ini, aku hanya punya ayah, aku hanya selalu mengandalkannya. Lalu pada siapa lagi selain dia aku akan tinggal? Tuhan, tidak cukupkah Kau membatukan hati ibuku hingga ia pergi tanpa perasaan meninggalkan dan melupakanku? Tidak cukupkah hanya itu, tuhan? Kenapa harus aku? Bahkan tuhan, aku tidak akan bisa hidup sendiri, bagaimana ini?
Lima hari sudah aku mengurung diri di rumah. Satupun tidak ada teman yang datang mengunjungiku untuk berbela sungkawa ataupun menghiburku. Sudahlah, aku rasa aku juga tidak membutuhkan mereka. Aku semakin yakin bahwa mereka memang benar membenciku. Aku hanya menghabiskan hariku dengan tidur-tiduran berbungkus selimut dikamar kecil. Tidak peduli sepanas apapun terik matahari di liuar, disini tetap terasa dingin. Aku sudah tidak selera untuk menangis lagi. Sudah lelah, bosan mungkin. Tapi kemudian, suara gedoran pintu membuatku benar-benar kaget dan menyudahi lamunanku.
Setelah aku membukakan pintu, seorang laki-laki bertampang sangar mengenakan kaos oblong yang mengetat dibajunya dengan paduan celana jeans berdiri tegap di hadapanku. Aku mau tidak mau merasa takut,,,
Lagi-lagi air mataku tumpah. Aku merasa benar-benar membenci dunia. Aku memaki, entah untuk siapa. Aku marah, entah kepada siapa…

BERSAMBUNG……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Rapat Mingguan Dosen IKHAC

Mojokerto, KPI – Kegiatan evaluasi pembelajaran sangat dibutuhkan dalam sebuah institusi pendidikan, guna mencapai mutu pendidikan yang terjamin. Seperti yang dilaksanakan pada Jum’at (23/03) di Meeting Room gedung B lantai 1 Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto. Rapat yang dipimpin langsung oleh Rektor IKHAC, Dr. H. Mauhiburrohman, Lc.,MIRKH tersebut […]