Suara Kita

Jadi Mahasiswa Yang Kritis atau Tidak Sama Sekali

  • Oleh : Amar Ma’ruf MD

Mahasiswa adalah sosok yang kritis. Jika kita merefleksikan kembali sejarah, sejak tahun 1950-an sampai puncaknya pada tahun 1998 begitu banyak kontribusi yang diberikan mahasiswa terhadap bangsa ini. Mereka berkumpul bersama menyatukan kekuatannya memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dahulu, pergerakan mereka dalam aksi demo, aksi damai, aksi unjuk rasa, dengan itulah cara mahasiswa  menunjukan beberapa bukti sikap kritisnya. Atas nama rakyat, mereka menyatukan kekuatannya, untuk bagaimana bisa memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Begitu banyak dinamika-dinamika di negeri ini yang mereka hadapi, berkat semangat dan kekompakan dari mereka, akhirnya segala hal mampu terlewati dengan baik.

Namun, hari ini seperti ada pergeseran makna dari kata mahasiswa. Sedikit demi sedikit banyak mahasiswa yang lupa akan peran dan fungsinya. Yang terjadi hari ini, mahasiswa hanya fokus pada satu bidang yang dijalani saja, dengan alasan ingin mendapatkan nilai yang tinggi.

Anggapan yang tersebar bahwa mahasiswa yang memperoleh nilai tinggi dianggap sebagai sosok yang pintar. Angka yang menjadi tolak ukur mahasiswa pada saat ini bahwa ia bisa dan ia mampu. Tidak peduli masalah disekitar masyarakat asal mereka duduk nyaman di ruangan, katanya lagi fokus belajar.

Tak hanya itu, begitu banyak mahasiswa pada saat ini yang disibukkan dengan hiburan semata seperti halnya karokean, party dan bermain game. Oleh karenanya mereka telah mengalihkan peran dan fungsi mahasiwa yang sesungguhnya, yang sudah tergantikan dengan berkumpul di warung kopi sambil wifian untuk bisa bermain game.

Masih begitu banyak aktifitas mahasiswa saat ini yang keluar dari peran dan fungsinya. Sepertinya, menjadi mahasiswa yang sesungguhnya adalah masalah bagi mahasiswa lainnya. Perlu adanya kesadaran kolektif dalam menyikapi masalah ini.

Yang harus kita sadari bersama, kita sekarang bukan lagi siswa biasa, kita adalah mahasiswa yang sudah terbiasa untuk lantang berbicara dan berani menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa.

Jangan hanya sekedar kita menggaung-gaungkan bahwasannya mahasiswa adalah agen of change, agen of control dan lain sebagainya, namun kita masih bersikap apatis terhadap masyarakat. Kita masih takut ketika berhadapan dengan para penguasa. Jangan sekedar berlagak politisi, tapi masih ciut ketika dihadapkan dengan penguasa.

Mahasiswa kok cari aman ?

Sejatinya dengan kita dibenturkan dengan berbagai persoalan maka kita akan terbentuk. Terbentur…terbentur…terbentur…terbentuk (Tan Malaka).

Baiklah, pada kesempatan ini, lewat tulisan yang unfaedah ini, izinkan saya menyadarkan dan mengingatkan kembali bahwasannya kamu itu mahasiswa bukan siswa biasa. Mahasiswa sebagi penyambung lidah rakyat tentunya kitalah yang menjadi penampung aspirasi rakyat untuk kita suarakan di hadapan birokrasi apa yang menjadi keinginan masyarakat demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Saya sadari, setiap orang pasti memiliki cara masing-masing untuk menumpahkan aspirasi atau kritik mereka akan segala sesuatu. Sikap kritis ini bisa diimplementasikan dengan cara lain.

Yang harus diperhatikan, kita sebagai mahasiswa akan lebih baik jika dapat meraih segala macam informasi dari berbagai sumber, sehingga jika kita ingin mengkritisi sesuatu, kita tahu persis apa yang ingin kita kritisi.

Sikap kritis bisa diwujudkan dalam bentuk yang lebih sopan, yaitu dengan menggunakan surat aspirasi atau beraudiensi dengan pihak yang ingin kita kritisi.

Yang tekadang menjadi kendala, pihak yang dikritisi hanya bisa menutup telinga dan mendadak bisu. Mereka hanya memandang dengan cara mereka. Sedangkan pihak yang mengkritisi terkadang hanya bisa mengkritik tapi tidak memberikan solusi. Tapi itulah tugas kita sebagai mahasiswa, menjadi pembuka telinga yang tertutup dengan pergerakan yang maksimal namun tidak berlebihan. Namun dari segi etika, haruslah tetap menjadi kunci yang harus dipegang.

Yang terpenting, setiap sikap kritik harus disertai dengan solusi yang reliable, realistic, dan argumentative. Ingat, mahasiswa bukanlah boneka yang hanya dipermainkan oleh pemiliknya. Mahasiswa bukan juga seekor sapi yang hanya mengikuti apa kata tuannya. Mahasiswa harus berani bersuara lantang untuk menuju sebuah perubahan.

Mahasiswa adalah Agen Perubahan. Kita sebagai mahasiswa sudah selayaknya mampu melakukan perubahan-perubahan. Jangan sekedar menjadi generasi penerus tapi harus menjadi generasi pelurus juga.

Mulailah melakukan perubahan untuk suatu hal tersulit diubah, yaitu diri pribadi. Tak bisa dipungkiri memang lebih mudah untuk kita mengubah orang lain dibanding dengan melakukan perubahan untuk diri sendiri.

Hal ini disebabkan kita akan lebih subyektif dalam menilai diri pribadi dan selalu lebih mudah melihat kelebihan yang ada dibanding kekurangan kita.

Dalam konteks mahasiswa, hal terpenting yang perlu diubah adalah mindsetnya. Mindset kita tidak bisa lagi seperti siswa. Kita tidak bisa berpikir apa yang harus kita lakukan sekarang saja. Mahasiswa harus mempunyai cita-cita yang tinggi. Layaknya seperti pepatah yang di sampaikan Bung Karno, Bermimpilah setinggi langit biar jatuh diantara bintang-bintang.

Mahasiswa seyogyanya memiliki pola pandang yang jauh ke depan, namun tetap mampu menganalisis dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan, serta mengetahui dengan jelas apa yang harus dilakukan sekarang menuju cita-cita yang kita inginkan.

Perubahan yang dapat dilakukan mahasiswa adalah perubahan melalui komunitas atau organisasi.

Bukan mahasiswa namanya kalau tidak mau bergabung dalam komunitas atau organisasi. Jika seseorang mengaku mahasiswa namun hanya datang ke kampus untuk masuk kelas, lalu pulang lagi ke rumah, tanpa ada sedikitpun aktivitas organisasi, maka jangan sesekali mengaku diri anda sebagai mahasiswa.

Begitu pula sebaliknya, jika kita mengaku sebagai mahasiswa namun hanya berkutat dalam organisasi saja, dan lupa akan tanggung jawab akademik seorang mahasiswa, jangan menggolongkan diri kita sebagai mahasiswa.

Kembali lagi kepada perubahan yang dapat dilakukan melalui sebuah organisasi. Perubahan tersebut dapat memberi dampak yang luar biasa bagi kita, mahasiswa lain, dan juga masyarakat luar. Contonya saja, ketika kita melakukan kritik terhadap kebijakan kampus yang kurang berimbang dan merugikan kita sebagai mahasiswa, maka kemungkinan besar, kita dapat mengurangi pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Hari ini Indonesia menuntut kita dalam Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul agar mampu menghadapi tantangan zaman. SDM unggul, Indonesia jaya. Begitulah yang diharapkan Bangsa kita saat ini.

Mulailah bergerak menuju perubahan. Sudah tidak zaman nya lagi kita hanya datang duduk diam di kelas dan menutup telinga terhadap persoalan di sekitar kita. Sejatinya sebagai seorang mahasiswa (agen of change), kita harus berperan lebih dalam perubahan bangsa kita ini. Kita yang harus menjadi garda terdepan sebagai penyambung lidah rakyat.

Itulah beberapa hal yang menjadi senjata kita sebagai mahasiswa, yaitu SDM yang unggul didukung dengan keberanian untuk mengkriritisi sesuatu dengan solusi dan argument yang jelas, dan semangat untuk melakukan perubahan.

Kita adalah mahasiswa, Kita bukanlah boneka yang terus diperlakukan semaunya dan kita juga bukan siswa biasa yang tidak tahu akan apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan.

Menjadi mahasiswa adalah pilihan kita dan kita harus siap untuk melakukan perubahan, menyusun prioritas dan menerima segala konsekuensinya. Jadi mahasiswa yang unggul, utuh dan berakhlak mulia atau tidak sama sekali.

(amr/erh)

Amar Ma’ruf (Jadi Mahasiswa Kritis atau Tidak Sama sekali (KPIIKHAC)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *