Suara Kita

Teman Hidup Artifisial

Oleh : Laila Aisya Zakiyah (Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam IKHAC)

Terasa penuh arti, ternyata artifisial

Seperangkat alat komunikasi pintar berupa gadget (telepon genggam pintar) beserta charger dan fasilitas penunjang berupa paket data, jaringan wifi dan internet, sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.Kita memiliki ikatan sangat erat dengan alat canggih ini. Bangun tidur cek gadget, mau pergi liat gadget, jalan-jalan main gadget, tertawa sendiri karena gadget, sampai mau tidur di temani gadget.Kita hidup di dunia nyata, tetapi kita cenderung lebih senang menunjukan eksistensi diri kita di dalam dunia maya. Pertanyaannya, berapa banyak temanmu ppdi dunia nyata ? dan berapa banyak temanmu di dunia maya ? jika dilihat dari segi kuantitas tentu saja teman maya kamu lebih banyak bukan ?

Pertemanan dunia nyata versus dunia maya

Saat kamu memiliki masalah dan kamu hendak menceritakan masalah kepada temanmu, teman mana yang lebih kamu butuhkan teman nyata atau teman maya ? kamu bisa menghubungi temanmu dan menceritakan masalah kamu, beres. berhubung teman maya kamu juga banyak, kamu merasa perlu mempublikasikan apa yang sedang kamu rasakan sebagai bentuk berbagi cerita kepada teman.Tidak masalah, tapi tidak sedikit orang yang menjadi haus perhatian dan menjadikan internet sebagai wadah untuk menumpahkan pikiran dan perasaan. Begitu pula saat suasana hatimu sedang baik, tidak sedikit dari kita yang update berlebihan. Foto-foto lalu di upload, update status, sepertinya umpan balik teman maya berupa (tanda suka, tanggapan dan sebagainya) meningkatkan kecanduan kita untuk terus-menerus berbagi cerita kepada mereka.Jika sudah kecanduan, ikatan kita dengan gadget akan semakin erat. Kita terkena rangsangan untuk selalu siaga, alhasil dikit-dikit cek gadget, cek gadget atas bawah (berharap ada notifikasi masuk) lihat beranda sampai lihat akun orang lain. Itulah aktivitas sehari-hari para pecandu dengan teman artifisialnya. Tidak ada gadget tidak ada kehidupan.Tahukah kalian, menurut para peneliti waktu ideal penggunaan gadget hanya 257 menit atau 4 jam 17 menit dalam sehari. Apa kabar dengan kita yang menggunakan lebih dari itu ?Semakin kita bersahabat dengan gadget, dia akan merubah gaya hidup dan pola hidup kita. Analoginya, dalam persahabatan pasti ada pengorbanan. Sadar tidak sadar kita telah mengorbankan waktu berharga kita untuk sahabat yang kita genggam.Rasa harmonis dalam kehidupan sosial yang nyata akan berkurang. Berkumpul dengan keluarga, kerabat dekat dan teman-teman akan terasa hambar dan penuh kepalsuan, saat berkumpul kita sibuk dengan gadget masing-masing. Lalu ada sesi yang tidak boleh dilewatkan, tidak sah kalau tidak foto, tidak sah kalau tidak update status, harus bikin cerita di media sosial. Terlihat jelas bukan, mereka para pecandu akan memprioritaskan teman genggamnya.Sering dijumpai pula, dimana orang yang tidak bermain gadget terkesan prihatin karena tidak ada teman yang bisa diajak bicara (berinteraksi). Maklum mereka terlalu fokus sampai-sampai susah fokus dengan yang nyata.Yakin kalian baik-baik saja berteman dengan gadget ? apakah kalian tidak sadar sering dibuat gelisah olehnya ? sadar tidak sadar kalian sudah terperangkap oleh teman se-permainan kamu sendiri.Gelisah karena menunggu notifikasi yang diharapkan tidak muncul-muncul atau dilanda kegelisahan lain berupa menurunnya tingkat kepercayaan diri karena gaya hidup yang di rasa tidak sebanding dengan orang lain, jadi kita menuntut diri kita untuk mengikuti tren, demi eksistensi semua dilakukan agar harga diri kita naik daun.Paket data habis, kita yang lemas. Merasa merdeka jika ada wifi dan ya akhirnya kita memiliki kebutuhan primer baru berupa paket data.Teman kita yang satu ini sepertinya senang menuntut kita ini itu dan menggiring kita untuk tidak menjadi diri sendiri, tetapi kita sama sekali tidak merasa di beratkan. Kita cenderung menyalahkan diri sendiri dan menyesal jika kita sendiri tidak bisa memenuhi apa yang kita inginkan. Dalam hal ini para fasilitator akan di untungkan dan kita sebagai konsumen akan di manfaatkan terus-menerus.Betapa pintar nya mereka menyediakan berbagai hal (fasilitas) yang kita inginkan dan betapa bodohnya kita yang selalu merasa kurang dengan berbagai fasilitas yang mereka sediakan.Kita terlalu tenggelam berteman dengan gadget, dengan berteman dengannya kita berubah menjadi manusia yang ingin serba instan. Mesin pencari andalannya menghentikan kita untuk melangkah secara manual, terus menerus mengandalkannya sehingga kita kurang gerak tapi banyak berfikir sampai gelisah.Tenggelam dengan zona yang dianggap nyaman padahal tidak nyaman, waktu tidur berkurang karena sibuk bercumbu dengan sang teman, teman yang membuat kamu merasa sepi di tengah keramaian, teman yang sering memberimu kegelisahan, teman yang membuat kamu berkorban banyak hal, teman yang kau anggap penuh arti ternyata artifisial.Gunakan gadget kamu dengan bijak, realitanya dia bukan temanmu. Ia hanyalah sarana yang berfungsi untuk mempermudah aktivitas kita. Jangan jadi gila, cukup gunakan seperlunya. Gadget bukan segalanya, segar kan lah otak kamu dengan mengikuti anjuran ideal penggunaan gadget, cintai diri sendiri. (lai/erh)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *