LPPDM

Pemuda, Organisasi, dan Politik

Negara Kesatuan Republik Imdonesia (NKRI) sangat luas adanya. Bermulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, berjajar gugusan pulau-pulau besar maupun kecil. Bangsa Indonesia bukan seperti bangsa yang lain di dunia, mendapat sebutan Negara kepulauan adalah sebuah berkah dan juga masalah. Berkah telah adanya sebuah pengakuan besar, dan juga masalah penjagaan yang tak dapat disepelekan. Terlebih dengan adanya beberapa pulau-pulau yang langsung berbatasan dengan Negara lain, menjadikan siaga satu agar terciptanya negara yang aman dan juga dapat mencapai puncak kesejahteraan.

Tentara Negara Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (KAPOLRI), Badan Intelegen Negara (BIN) dan masih banyak lagi pengaman atau pahlawan nyata dalam bangsa Indonesia. Menjaga perbatasan, keamanan masyarakat adalah tugas utamanya, tentunya agar teriptanya sebuah iklim kesejahteraan dimanapun tempatnya tanpa terkecuali.

Indonesia bukan negara yang menganut sistem kenegaraan monarki, namun demokrasi yang dianutnya. Demokrasi yang melibatkan seluruh rakyat dalam mengambil kebijakan dengan perantara perwakilan dalam memerintah. Namun, dengan ukuran seluas bangsa ini dan juga banyaknya jumlah penduduk negeri ini, memungkinkan perlu diperlibatkannya perwakilan-perwakilan yang jumlahnya lebih dari bayangan.

Politik dan organisasi tidak pernah luput dari campur tangan kaum akademisi atau pemuda. Sumbangsih pemuda terhadap pembentukan Negara amat besar. Semenjak dalam cengkeraman kelompok imperialis penjajah, pemuda bangsa Indonesia sudah mempunyai geliat dunia politik dan organisasi. Salah satu perjuangan yang sangat fenomenal yang dilakukannya ialah digelarnya kongres pemuda pada tahun 1928, pra kemerdekaan.

Sumpah pemuda merupakan pencapaian penting pergerakan aktifitas pemuda dalam bidang politik dan organisasi. Menjadi tonggak perjuangan bangsa Indonesia dala merebut kemerdekaan yang di impikan. Sumpah pemuda merupakan hasil dari geliat perpolitikan pemuda kala itu, suatu bentuk pengakuan dari pemuda-pemudi bangsa, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia guna mengikrarkan satu tanah air (tanpa penindasan), satu bangsa (yang gandrung akan keadilan), dan satu bahasa (tanpa kebohongan).

Tidak hanya sumpah pemuda, geliat pergerakan politik dinegeri juga berlaku dalam  narasi sejarah bangsa Indonesia. Sebagaimana organisasi Boedi Oetomo dan bung Hatta kala muda, yang menghimpunkan serta memimpin  seluruh pemuda-pemudi di Belanda yang menginginkan sebuah kemerdekaan.

Geliat politik dan organisasi dalam negeri juga tak dapat disepelekan, seperti Jong Java, Jong Celebes dan lain sebagainya, yang juga mengharapkan kehadiran kemerdekaan. Serta masih banyak lagi organisasi pergerakan politik yang dimotori pemuda Indonesia.

Pemuda kala itu memiliki harapan besar agar bangsa Indonesia dapat merdeka serta menentukan nasibnya sendiri. Dengan kemerdekaan pemuda mengharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang adil, tenteram, dan sejahtera. Adapun keseluruhan kegiatan yang dilakukan pemuda adalah beberpa contoh bentuk kieinginan pemuda untuk Indonesia yang lebih baik.

Pemuda zaman dahulu telah membuktikan bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk merubah masyarakat Indonesia menuju yang jauh lebih baik dengan menggunakan senjata politik. Mereka berpolitik secara sistematis dan masif guna mengantarkan bangsa Indonesia kejenjang pintu kemerdekaan. Namun, sayang tapi tak seribu sayang, pemuda saat ini, seolah memberikan jarak panjang kepada dunia politik, mereka mempunyai paradigma politik semacam partai politik yang sering ditayangkan dalam pertelevisian. Pemuda sekarang, menganggap partai politik sebagai gembong sarang bagi mereka yang haus kekuasaan dan ajang korupsi besar-besaran.

Banyak yang menstigmakan organisasi perpolitikan di Indonesia adalah arena berebut kekuasaan yang dilegalkan. Mereka mempunyai anggapan, apabila masuk dalam ranah politik seperti organisasi dan partai politik adalah sebuah keburukan dalam kacamata pandangnya. Dan pada akhirnya fenomena yang sangat tampak ialah menjauhnya pemuda dari politik yang seakan mendapat sebuah pengaminan dari lingkupnya. Yang dapat ditarik benang merah dan tampak sekali buktinya dengan langgengnya slogan dan jargon “politik itu kotor”.

Masuk Lembaga Politik

Politik merupakan sebuah hal vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Segala sesuatu yang ada dalam hiruk pikuk Negara dan organisasi  diatur oleh politik. Lantas bagaimana kita menghindari politik, jika politik sudah mengatur segi kehidupan. Alangkah lebih bijaknya apabila kita masuk dalam dunia politik organisasi agar tak terjerembab dalam kubangan  jebakan politik.

Mourice Duverger adalah tokoh sosiologi politik dari Perancis, menjelaskan bahwa hakikat dari konsep politik adalah peihal kekuasaan. Menurut Duverger ada dua pengaruh yang ditimbulkan dari kekuasaan.

Pertama, bilamana aktor melihat politik pada dasarnya sebagai arena pertarungan. Maka kekuasaan dijadikannya sebagai objek dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Dalam sudut pandang ini politik lebih condong kearah biang konflik.

Kedua, bilamana aktor menganggap politik adalah upaya untuk menegakkan keadilan dan ketertiban, dalam sudut pandang ini politik sebagai pelindung kepentingan dan kesejahteraan umum. Melalui paradigma ini, kekuasaan memainkan peranan integral dalam melindungi kepentingan bersama. (diambil dari tulisan teman sejawat, tentang Sosiologi Politik)

Dari fenomena yang ditimbulkan oleh politik, Duverger mengibaratkan politik laksana Dewa Janus. Dewa bermuka dua dalam mitologi romawi kuno. Layaknya politik seperti dua bilah mata uang logam, satu menampilkan konflik, serta sisi lain menampilkan keteraturan kesejahteraan.

Dari fenomena penjelasan diatas, maka Duverger memberikan kesan  bahwasannya baik buruknya politik tergantung aktornya. Apabila aktor tersebut baik, maka akan diarahkan pada kebaikan, dan apabila aktornya buruk, maka akan diorientasikan kepada hal-hal buruk pula.

Oleh karena itu, jangan sampai pemuda yang memiliki kepribadian dan paradigma  politik yang baik menjauh dari kancah politik. Karena apabila pemuda yang baik menjauh, maka sistem pegerakan politik bangsa Indonesia akan diisi oleh segerombolan pemuda-pemudi yang haus akan jabatan.

Telah tepat waktunya bagi pemuda mengambil peran dalam dunia politik dan organisasi. Pemuda memiliki semangat dan daya juang yang tinggi guna merombak peradaban yang lebih baik. Selain itu, pemuda memiliki ide, gagasan yang amat sangat cair, inovatif, dan juga solutif. Berbekal dengan kondisi semacam itu dapat menjadi modal besar dan fundamental bagi pemuda guna mengarungi bahtera dunia politik yang katanya kejam.

Tangkap dan ambil pemikiran-pemikiran pendahulu kita yang telah menjebolkan dirinya dalam panggung politik yang baik. Geser para generasi tua yang sudah tak memiliki pemikiran idealis lagi. Ganti posisi meraka yang sudah kehilangan kepekaan terhadap kesejahteraan. Saat ini adalah giliran kita, untuk melek politik dan masuk didalamnya dan mengendalikan politik dalam berorganisasi kearah yang lebih dapat dibanggakan. (JP)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *